Minggu, 05 Agustus 2012

Bandung Tempo Doeloe

Foto-foto Bandung Tempo Doeloe

Bulan Oktober dan November yang lalu di Bandung diadakan festival komunitas kreatif yang bernama Helarfest (baca kegiatan ini di sini). Nah, panitia Helarfest memajang foto-foto Bandung tempo doeloe seukuran papan billboard. Foto-foto itu dipajang pada tiang penyangga jalan layang Pasupati di sepanjang jalan Cikapayang. Pengendara yang melewati jalan di bawah jembatan layang ini tentu dapat menikmati forto-foto besar yang menampilkan kota Bandung pada awal abad 20. Hingga sekarang foto-foto besar itu masih dipajang.
Kemarin saya menyempatkan diri turun dari kendaraan dan memfoto foto-foto yang menarik itu sepanjang jalan Cikapayang. Sebagai penggemar foto, saya sangat suka mengabadikan hal-hal menarik yang saya lihat sepanjang perjalanan. Berikut hasil jepretan saya (dengan kamera ponsel). Klik foto untuk melihat lebih besar.
1. Foto perempatan jalan A.Yani dan Jalan Riau (Martadinata) pada tahun 1920.

2. Jalan Riau pada tahun 1917.

3. Alun-alun Bandung pada tahun 1938.

4. Jalan Asia Afrika pada tahun 1920

5. Jalan Braga pada tahun 1911

6. Kampus ITB pada tahun 1920

7. Kologdom (markas militer) pada tahun 1923

8. Jalan antara Kopo dan Ciwidey pada tahun 1880

9. Masjid Agung dan alun-alun Bandung pada tahun 1890

10. Seputar GOR Saparua pada tahun 1930

11. Taman Balaikota pada tahun 1920

"Renunganku"

"Rejeki Nggak Bakalan Ketukar"

Setiap kali saya pulang dari dari kantor (ITB) ke rumah di Antapani pada bulan puasa ini, sepanjang jalan mulai dari Gasibu terus ke Cicadas hingga sampai ke kompleks perumahan banyak sekali bermunculan pedagang dadakan yang menjual makanan untuk buka puasa. Ada yang pakai gerobak, ada yang menggelar meja di pinggir jalan, bahkan ada yang elit memakai mobil Avanza. Setiap lima meter pasti ada yang berjualan makanan yang serupa: kolak candil, sop buah, es buah, es cendol, rujak cuka, es dawet, es kelapa muda, gorengan, dan lain-lain.
Pedagang penganan buka puasa dadakan di Jalan Pusdai, Bandung
Banyaknya orang yang pulang kerja adalah sasaran mereka, ditambah dengan orang-orang yang menghabiskan waktu senja alias ngabuburit bahasa Sundanya. Pada pedagang itu dengan sabar menunggu pembeli yang lalu lalang melewati jalan. Satu dua motor atau mobil berhenti untuk membeli, lalu pergi.
Jumlah pedagang semacam itu bisa ratusan orang dalam jarak sekitar lima kilometer. Sebelah menyebelah dari pedagang itu menjual dagangan yang nyaris sama yaitu kolak. Ada yang ramai dikunjungi pembeli, ada yang agak sepi, dan ada yang cukupan saja. Yang saya lihat adalah para pedagang itu tetap sabar, sebersitpun tidak tampak kekhawatiran dagangannya tidak laku. Mereka yakin pasti ada yang akan membeli, pasti ada orang yang nyangkut dengan dagangan mereka. Nyatanya memang ada saja orang yang kepincut dan berhenti untuk membeli.
Keadaan yang sama dapat kita lihat di pasar-pasar tradisionil yang menjual barang kebutuhan sejenis seperti sandang dan pangan. Kedai yang sebelah menyebelah menjual barang yang sama. Ada kedai yang ramai dikunjungi pembeli, ada yang sepi-sepi saja. Tetapi kalau anda perhatikan tidak tampak keluh kesah di antara pedagang itu.
Kalau anda bertanya kepada para padagang yang sedang menunggu pembeli itu, apakah mereka tidak khawatir dagangannya tidak laku sehingga mereka tidak akan membawa pulang uang hari ini? Atau, apakah mereka tidak iri dengan dagangan sebelah yang laris, sedangkan dagangannya sepi. Jawaban mereka sungguh mengagetkan: PERCAYALAH, REJEKI NGGAK BAKALAN KETUKAR!
Jika pedagang ritel modern seperti supermarket dan swalayan tidak pernah khawatir toko mereka sepi pembeli (karena mereka sudah punya jaringan dan promosi yang kuat), maka para pedagang kecil itu hanya bermodalkan kepasrahan bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Rezeki dari Tuhan tidak akan “salah kamar”, tidak akan tertukar antara satu orang dengan orang lainnya, jadi kenapa harus khawatir?
Jawaban sederhana itu ada benarnya. Tuhan menciptakan manusia tidak dengan satu selera. Selera setiap orang tidak pernah sama, oleh karena itu pasti ada saja pembeli yang tertarik dengan dagangan si A, yang lain tertarik dengan dagangan orang di sebelahnnya. Masing-masing pedagang akan kebagian pembeli karena ketertarikan itu berbeda-beda.
Pada tataran yang lebih tinggi, yaitu iman, orang yang beriman meyakini bahwa rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Kita manusia ini ibarat seorang pedagang yang menunggu pembeli. Rezeki itu dikirim Tuhan melalui perantaraan pembeli, atau pemberi order, atau pengguna layanan. Jika anda seorang pedagang kemudian ada orang yang membeli dagangan anda dan bukan dagangan teman anda, percayakah anda bahwa Tuhanlah yang mengirimkan orang itu untuk membeli dagangan anda. Jika ada seorang pengusaha kemudian anda mendapat order dari seseorang, percayakah anda bahwa Tuhanlah yang mengirimkan orang itu kepada anda. Jika anda seorang pegawai lalu anda mendapat tambahan penghasilan (yang halal tentunya) karena anda mengerjakan pekerjaan ekstra, percayakah anda bahwa Tuhanlah yang mengirim pekerjaan ekstra itu kepada anda?
Jadi, manusia tidak perlu cemas dengan urusan rezeki. Rezeki setiap makhluk sudah dijamin oleh Allah SWT, termasuk rezeki seekor semut sekalipun.
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud: 6).
“Dan berapa banyak binatang yang tidak menanggung rezeki-Nya, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya (kepada binatang) dan kepadamu (para manusia ), dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ankabut: 60)
”Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu. Adakah pencipta selain Allah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia, maka betapa kamu bisa dipalingkan?” (Al-Fathir: 3)
Tentu saja kepasrahan tentangt rezeki itu bukan kepasrahan yang pasif. Manusia tetap harus berikhitiar dan berusaha untuk mencarinya, lalu sesudah itu bertawakal kepada-Nya. Pada contoh pedagang kolak di atas, mereka sudah berikhitiar mengharap rezeki dengan berjualan penganan berbuka puasa, selebihnya bertawakal dan berserah diri saja kepada Allah SWT, biarlah Allah saja yang mengatur siapa yang didatangi oleh pembeli, siapa yang dikunjungi oleh pembeli yang lain, dan seterusnya.
Bahkan, rezki dari Allah SWT itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka selama manusia selalu memohon ampunan (beristighfar) kepada Allah SWT.
“Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah s.w.t akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas r.a.)
Itulah misteri rezeki, karena itu kita tidak perlu khawatir akan kekurangan, karena Allah SWT sudah menjamin rezeki itu.

Foto-Foto Lawas Bung Karno

Foto-Foto Lawas Bung Karno (yang Jarang Dilihat Orang)

1. Bung Karno mencium putrinya. Hmm… siapa yang diciumnya itu? Apakah Sukmawati? Kalau yang paling kiri jelas itu Megawati. Megawati cantik sekali waktu masih gadis. Semua anak Bung Karno memang cantik-cantik dan tampan.

2. Bung Karno dan Presiden AS yang terkenal, John F. Kennedy

3. Masih dengan John F. Kennedy, di Washington

4. Bung Karno dengan bintang Hollywood. Marylin Monroe kah?

5. Kunjungan ke Bandung dengan istrinya Bu Fatwamati dan seorang tamu asing. Siapa dia? (sepertiya dari Srilanka/India)

6. Bung Karno, istri, dan anaknya. Guntur? Guruh?

7. Bung Karno memperoleh gelar kehormatan dari sebuah Universitas di luar negeri. Universitas apakah itu?

8. Bung Karno dan Kaisar Jepang, Hirohito

9. Bung Karno, disamping seorang pemimpin besar, dia rupanya seorang “pemuja” wanita. Istrinya lebih dari satu. Ini adalah pernikahannya dengan wanita Jepang, Ratna Sari Dewi.

10. Soekarno tua. Inilah wajah Soekarno tanpa peci khasnya.

11. Pemakaman Soekarno di Blitar

"ngobrol w da wawuh" hee..ee

Nama saya Nandi, saya bergabung dengan BHI pada angkatan 17. Saya menjalankan program OJT saya di Batam View Beach Resort selama 6 bulan.
Itu merupakan pengalaman pertama saya untuk bekerja dan untuk berinteraksi secara langsung dengan para tamu di industry perhotelan. Pengalaman pertama itulah yang semakin membuat saya tertarik untuk mendalami industry pariwisata dan perhotelan.
Setelah menyelesaikan program OJT dan lulus dari program satu tahun BHI, saya bekerja pekerja harian/casual di Hotel Bandung selama 2 bulan. Setelah itu saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Hotel di Mekkah – Saudi Arabia, Bagaikan mimpi yang menjadi nyata bagi saya untuk dapat bekerja di Luar negeri.
Awalnya saya bekerja sebagai Public Area Attendant, setelah 2 minggu, saya mendapatkan kesempatan untuk training sebagai Room boy, dan tak lama kemudian saya pun di promosikan sebagai Room boy.
Keinginan saya untuk mempelajari hal-hal baru mendorong saya untuk terus belajar, keinginan saya ketika itu adalah untuk mendapatkan kesempatan kerja di bagian Concierge. Suatu bagian yang langsung dapat berinteraksi dengan tamu dan posisi yang banyak diminati oleh staff di Hotel Ewaa Mekkah. Ternyata keberuntungan ada disisi saya, dari 15 kandidat yang akan di wawancara oleh General Manager sebagai the best employers. Dan ternyata saya mampu bersaing dengan ke 14 kandidat lainnya dan sewaktu wawancara dengan GM tersebut bahwa the best employers jatuh atas nama saya, "iam very happy" karena dari 15 kandidat ternyata saya bisa mengungguli mereka plus bonus "duit" heee...eee...

saya dapat menambah banyak pengalaman kerja saya di bidang ini, ngobrol dengan orang2 yang bukan senegara bertukar pengalaman dan yang paling penting "maklum kalam arabic suaya - suaya" heee....eee berarti dalam perjalanan hidup saya ada peningkatan "yang tadinya gak tahu jadi tahu" heee... ya itula memang hidup harus terus ke atas jangan diam terus di situ ...Kelebihan lain dengan pekerjaan saya , akhirnya saya mendapat kesempatan untuk Umroh dan bahkan naik Haji... "subhanallah"
Maka sedikit pesan yang bisa saya bagikan adalah “ Jangan ragu untuk mengembangkan karir di industry perhotelan, karena saya telah membuktikannya sendiri” (keep on spirit)

"hidup ini indah"

hidup ini indah sobatApakah anda percaya kalau hidup ini indah? Coba ingat sejenak…
Saat anda dilahirkan di dunia ini; saat pertama kali anda melihat indahnya sinar mentari; saat anda pertama kali menghirup segarnya udara pagi; ketika anda melihat hijaunya sawah, indahnya pegunungan, dan segala alam ciptaan Yang Maha Kuasa ini; saat anda berkumpul bersama orang-orang yang anda cintai, tertawa bersama, bercengkrama, dan menghabiskan banyak waktu bersama, sungguh betapa indah hidup ini.
Namun saat umur bertambah, kemudian orang-orang merasa sulit untuk merasakan kembali keindahan itu. Yang selalu terpikir betapa hidup itu keras dan susah. Susah cari makan, susah memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan berbagai kesusahan lainnya. Bahkan mungkin ada yang sampai menyalahkan Tuhan karena keadaan yang sedang terjadi. Oh, jangan sampai itu terjadi…
Kehidupan yang seperti itu yang kemudian membuat kita diliputi ketakutan dan dilingkupi hal-hal yang negatif. Kepercayaan bahwa hidup itu susah tanpa sadar lalu melekat dalam keyakinan diri, dan membuat hidup betul-betul susah.
Hidup itu indah, sobat. Betul, ada ACTION yang harus dilakukan untuk mencapai sesuatu. Dan ACTION itu indah, sobat. Dalam setiap ACTION yang kita lakukan peluang keajaiban itu akan muncul. Yang membuat kita dianugerahi kehidupan yang lebih baik dan lebih baik.
Bayangkan jika keyakinan “hidup itu susah” yang selalu kita tanamkan pada diri dan sebarkan pada orang-orang sekitar. Pasti tidak ada gairah dalam hidup kita. Tidak ada terobosan dalam ACTION kita.
Kata orang bijak: apa yang anda percayai, itulah yang akan terjadi.
Hidup ini indah. Hidup ini terlalu singkat untuk dibuat susah. Percayalah, apa yang anda percayai bisa dicapai, bisa anda dapatkan. Jangan pernah mudah menyerah. Tidak pernah ada kata gagal dalam kamus hidup anda. Kalaupun belum mencapai seperti yang diinginkan, itu berarti hanya belum berhasil.
Jangan pernah ragu untuk ACTION! Sebab dari sana peluang keberhasilan bermula. Mulai ACTION sekarang untuk mencapai apapun yang anda inginkan. Berjalan selangkah demi selangkah mendekati impian anda. Jangan malas, mari kerja keras!
Hidup ini terlalu indah untuk diisi oleh ratapan, umpatan, penyesalan, rasa marah, dendam. Semua itu hanya menggerogoti keindahan hidup. Tertawa dan tersenyumlah, walau dalam suasana sedih sekalipun. Syukuri apa yang telah anda miliki. Belajarlah dari kehidupan yang sudah dijalani.
Tetap semangat jalani hidup ini. Sebab hidup ini indah, sobat. Salam ACTION!

Kamis, 05 Juli 2012

picture


Mengolah Makanan Dengan Ganja


Seni memasak dengan ganja banyak macamnya. Hal yang perlu kita ketahui adalah bagaimana cara mencampur ganja kedalam makanan. Salah satu metode atau cara memasak dengan ganja adalah dengan mengubahnya menjadi mentega (butter). Dengan menggunakan mentega yang dicampur dengan ganja, kita sudah bisa memilih kue model apa yang akan kita masak.
Berikut adalah cara sederhana membuat mentega ganja (Cannabutter).
Peralatan yang dibutuhkan:
  1. Penggiling
  2. Kompor untuk memanaskan mentega + ganja.
  3. Wajan ukuran sedang dengan tutupnya.
  4. Gelas pengukur (measuring cup).
  5. Sendok adon (whisk) untuk mencampur material dengan larutan air.
  6. Kain untuk menyaring material sebelum pendinginan.
  7. Mangkuk ukuran besar untuk menampung dan mendinginkan bahan Butter Cannabis.
  8. Plastik pembungkus yang kuat untuk mengompres mentega ganja menjadi lebih kecil dan lebih mudah untuk di bentuk.
  9. Panci besar untuk menyimpan CannaButter yang sudah jadi.
Bahan:
  • ½ kilo mentega tawar.
  • 2 cangkir air.
  • 1 ons ganja
Persiapan:
Giling ganja sampai halus dengan menggunakan alat penggiling seperti grinder. Kemudian campurkan ganja ke dalam adonan mentega/butter dalam wajan dan aduk hingga merata.
Memasak:
Masukkan 2 gelas air  dalam panci dan biarkan air mendidih dalam keadaan tertutup. Setelah air mendidih, masukkan mentega+ganja ke dalam panci dan biarkan mentega tersebut meleleh dalam air. Kecilkan api dan tutup panci sehingga mentega campur ganja tadi mendidih.
Setelah mencampur mentega dengan ganja ke dalam panci, aduk pelan-pelan hingga merata. Pastikan ketika merebus mentega+ganja, jangan sampai bagian bawah panci gosong karena akan berpengaruh pada rasa dan kualitas butter.
Didihkan CannaButter (ganja+mentega) selama 22-24 jam. Waktu yang lama diperlukan untuk mengekstrak THC dari ganja itu. Setelah selesai matikan api dan ambil mentega ganja.
Langkah selanjutnya saring rebusan mentega+ganja tadi dengan menggunakan kain tipis ke dalam wajan dan pastikan ampas rebusan tidak ikut masuk. Tuangkan larutan ganja mentega ke dalam mangkuk besar dan remas sisa ampas rebusan yang tersisa di kain.
Pendinginan:
Tempatkan mangkuk yang sudah  berisi CannaButter tadi ke dalam lemari es. Biarkan di lemari es sampai dingin beberapa jam. Ini akan memisahkan lemak dari air. Lemak menjadi Butter Cannabis.
Penyimpanan:
Menyimpan CannaButter perlu sedikit kehati-hatian. Ciduk dengan menggunakan sendok/spatula secara perlahan CannaButter yang mengambang dipermukaan dan tinggalkan air dan sisa-sisa rebusan atau ampas yang tertinggal didasar panci.
Setelah semua mentega ganja masuk ke dalam bowl, buang air sisa rebusan. Tempatkan mentega ganja dalam wadah kedap udara dan simpan dalam lemari es (menjaga CannaButter segar dan potensi yang tinggi).
Mentega ganja (Cannabutter) sudah bisa digunakan untuk membuat berbagai macam kue atau hidangan lainnya. (cpt)