Setiap kali saya pulang dari dari kantor (ITB) ke rumah di Antapani
pada bulan puasa ini, sepanjang jalan mulai dari Gasibu terus ke
Cicadas hingga sampai ke kompleks perumahan banyak sekali bermunculan
pedagang dadakan yang menjual makanan untuk buka puasa. Ada yang pakai
gerobak, ada yang menggelar meja di pinggir jalan, bahkan ada yang elit
memakai mobil Avanza. Setiap lima meter pasti ada yang berjualan makanan
yang serupa: kolak candil, sop buah, es buah, es cendol, rujak cuka, es
dawet, es kelapa muda, gorengan, dan lain-lain.

Pedagang penganan buka puasa dadakan di Jalan Pusdai, Bandung
Banyaknya orang yang pulang kerja adalah sasaran mereka, ditambah dengan orang-orang yang menghabiskan waktu senja alias
ngabuburit bahasa
Sundanya. Pada pedagang itu dengan sabar menunggu pembeli yang lalu
lalang melewati jalan. Satu dua motor atau mobil berhenti untuk membeli,
lalu pergi.
Jumlah pedagang semacam itu bisa ratusan orang dalam jarak sekitar
lima kilometer. Sebelah menyebelah dari pedagang itu menjual dagangan
yang nyaris sama yaitu kolak. Ada yang ramai dikunjungi pembeli, ada
yang agak sepi, dan ada yang cukupan saja. Yang saya lihat adalah para
pedagang itu tetap sabar, sebersitpun tidak tampak kekhawatiran
dagangannya tidak laku. Mereka yakin pasti ada yang akan membeli, pasti
ada orang yang
nyangkut dengan dagangan mereka. Nyatanya memang ada saja orang yang kepincut dan berhenti untuk membeli.
Keadaan yang sama dapat kita lihat di pasar-pasar tradisionil yang
menjual barang kebutuhan sejenis seperti sandang dan pangan. Kedai yang
sebelah menyebelah menjual barang yang sama. Ada kedai yang ramai
dikunjungi pembeli, ada yang sepi-sepi saja. Tetapi kalau anda
perhatikan tidak tampak keluh kesah di antara pedagang itu.
Kalau anda bertanya kepada para padagang yang sedang menunggu pembeli
itu, apakah mereka tidak khawatir dagangannya tidak laku sehingga
mereka tidak akan membawa pulang uang hari ini? Atau, apakah mereka
tidak iri dengan dagangan sebelah yang laris, sedangkan dagangannya
sepi. Jawaban mereka sungguh mengagetkan: PERCAYALAH, REJEKI NGGAK
BAKALAN KETUKAR!
Jika pedagang ritel modern seperti supermarket dan swalayan tidak
pernah khawatir toko mereka sepi pembeli (karena mereka sudah punya
jaringan dan promosi yang kuat), maka para pedagang kecil itu hanya
bermodalkan kepasrahan bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Rezeki dari
Tuhan tidak akan “salah kamar”, tidak akan tertukar antara satu orang
dengan orang lainnya, jadi kenapa harus khawatir?
Jawaban sederhana itu ada benarnya. Tuhan menciptakan manusia tidak
dengan satu selera. Selera setiap orang tidak pernah sama, oleh karena
itu pasti ada saja pembeli yang tertarik dengan dagangan si A, yang lain
tertarik dengan dagangan orang di sebelahnnya. Masing-masing pedagang
akan kebagian pembeli karena ketertarikan itu berbeda-beda.
Pada tataran yang lebih tinggi, yaitu iman, orang yang beriman
meyakini bahwa rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Kita manusia ini ibarat
seorang pedagang yang menunggu pembeli. Rezeki itu dikirim Tuhan melalui
perantaraan pembeli, atau pemberi order, atau pengguna layanan. Jika
anda seorang pedagang kemudian ada orang yang membeli dagangan anda dan
bukan dagangan teman anda, percayakah anda bahwa Tuhanlah yang
mengirimkan orang itu untuk membeli dagangan anda. Jika ada seorang
pengusaha kemudian anda mendapat order dari seseorang, percayakah anda
bahwa Tuhanlah yang mengirimkan orang itu kepada anda. Jika anda seorang
pegawai lalu anda mendapat tambahan penghasilan (yang halal tentunya)
karena anda mengerjakan pekerjaan ekstra, percayakah anda bahwa Tuhanlah
yang mengirim pekerjaan ekstra itu kepada anda?
Jadi, manusia tidak perlu cemas dengan urusan rezeki. Rezeki setiap
makhluk sudah dijamin oleh Allah SWT, termasuk rezeki seekor semut
sekalipun.
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan
Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud: 6).
“Dan berapa banyak binatang yang tidak menanggung rezeki-Nya,
Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya (kepada binatang) dan kepadamu
(para manusia ), dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ankabut: 60)
”Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu. Adakah
pencipta selain Allah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan
bumi? Tidak ada tuhan selain Dia, maka betapa kamu bisa dipalingkan?” (Al-Fathir: 3)
Tentu saja kepasrahan tentangt rezeki itu bukan kepasrahan yang
pasif. Manusia tetap harus berikhitiar dan berusaha untuk mencarinya,
lalu sesudah itu bertawakal kepada-Nya. Pada contoh pedagang kolak di
atas, mereka sudah berikhitiar mengharap rezeki dengan berjualan
penganan berbuka puasa, selebihnya bertawakal dan berserah diri saja
kepada Allah SWT, biarlah Allah saja yang mengatur siapa yang didatangi
oleh pembeli, siapa yang dikunjungi oleh pembeli yang lain, dan
seterusnya.
Bahkan, rezki dari Allah SWT itu datang dari arah yang tidak
disangka-sangka selama manusia selalu memohon ampunan (beristighfar)
kepada Allah SWT.
“Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah s.w.t akan
menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan
memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas r.a.)
Itulah misteri rezeki, karena itu kita tidak perlu khawatir akan kekurangan, karena Allah SWT sudah menjamin rezeki itu.